WHAT'S NEW HERE?

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Lomba Esai Tingkat Nasional FORKOMPI 2014

Ada kabar gembira untuk teman - teman yang hobby menulis terutama menulis esai,, Dalam rangkaian acara Kongres Nasional FORKOMPI 2014, Forum Komunikasi Mahasiswa Poltekkes Kemenkes se-Indonesia (FORKOMPI) bekerjasama dengan BEM Poltekkes Denpasar mempersembahkan Lomba Esai Tingkat Nasional FORKOMPI 2014 dengan tema "Generasi Muda yang Berkarakter dan Bebas Korupsi"




Lomba ini terbuka untuk mahasiswa jenjang DIII dan S1 perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia,, Ayo tunggu apa lagi, segera daftarkan dirimu dan menangkan total hadiah jutaan rupiah dan piala tetap.. Pendaftaan 30 Juni sampai 25 Juli 2014

untuk info lebih lenjut klik http://www.bempoltekkesdps.blogspot.com/

CP :
Tinik (089608696994)
Rina (085739413695)

Silahkan dishare jika info ini bermanfaat :) 

Lomba Esai Tingkat Nasional FORKOMPI 2014

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments

Ada kabar gembira untuk teman - teman yang hobby menulis terutama menulis esai,, Dalam rangkaian acara Kongres Nasional FORKOMPI 2014, Forum Komunikasi Mahasiswa Poltekkes Kemenkes se-Indonesia (FORKOMPI) bekerjasama dengan BEM Poltekkes Denpasar mempersembahkan Lomba Esai Tingkat Nasional FORKOMPI 2014 dengan tema "Generasi Muda yang Berkarakter dan Bebas Korupsi"




Lomba ini terbuka untuk mahasiswa jenjang DIII dan S1 perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia,, Ayo tunggu apa lagi, segera daftarkan dirimu dan menangkan total hadiah jutaan rupiah dan piala tetap.. Pendaftaan 30 Juni sampai 25 Juli 2014

untuk info lebih lenjut klik http://www.bempoltekkesdps.blogspot.com/

CP :
Tinik (089608696994)
Rina (085739413695)

Silahkan dishare jika info ini bermanfaat :) 

Kau Tak Terganti (Puisi)


Kau tetes embun penyejuk panas hati
Kau senandung rindu mengalun lembut dalam jiwa sunyi
Kau percikan bunga api menggelora raga tak bernyawa
Kau bait demi bait syair rindu yang ku lukis pada sang waktu
Kau terik surya membakar naluri rasa
Kau tetes merta membasuh keraguan hati bimbang
Kau bianglala yang menari kala hari kelabu, indah
Kau titik cahya putih berlapis pekatnya langit malam
Kau segumpal rasa yang tak terungkap dalam dada
Mengusik lelapku, memacu hasrat, jiwa dan akalku
Hanya Kaulah seorang dalam hati sanubari, tak terganti

Kau Tak Terganti (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Kau tetes embun penyejuk panas hati
Kau senandung rindu mengalun lembut dalam jiwa sunyi
Kau percikan bunga api menggelora raga tak bernyawa
Kau bait demi bait syair rindu yang ku lukis pada sang waktu
Kau terik surya membakar naluri rasa
Kau tetes merta membasuh keraguan hati bimbang
Kau bianglala yang menari kala hari kelabu, indah
Kau titik cahya putih berlapis pekatnya langit malam
Kau segumpal rasa yang tak terungkap dalam dada
Mengusik lelapku, memacu hasrat, jiwa dan akalku
Hanya Kaulah seorang dalam hati sanubari, tak terganti

Kemelut Rindu (Puisi)


Tatap aku
Pandangi kedua bola mataku, lekat
Rasakan hembusan nafasku
Dengar alunan jantungku bertalu
Rasakan setitik cahya itu mengalir
Dari ujung kedua bola mataku
Menyeruakan pendar rindu
Dalam terpendam tak tergali
Resapi dan hayati
Cahya itu berpendar lesu namun penuh arti
Merayap perlahan menuju sang penakluk rindu

Ke kedua kelopak matamu

Sadarkah kau akan itu?
Ijinkan ia masuk lewat matamu
Ia akan mengoyak hatimu, tubuhmu
Dan kau kan tahu yang kurasa

Kemelut Rindu (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Tatap aku
Pandangi kedua bola mataku, lekat
Rasakan hembusan nafasku
Dengar alunan jantungku bertalu
Rasakan setitik cahya itu mengalir
Dari ujung kedua bola mataku
Menyeruakan pendar rindu
Dalam terpendam tak tergali
Resapi dan hayati
Cahya itu berpendar lesu namun penuh arti
Merayap perlahan menuju sang penakluk rindu

Ke kedua kelopak matamu

Sadarkah kau akan itu?
Ijinkan ia masuk lewat matamu
Ia akan mengoyak hatimu, tubuhmu
Dan kau kan tahu yang kurasa

Benih Harap (Puisi)



Ku tabur sebintik benih di pematang
Ku kubur ia dengan tanah penuh harap
Ku siram ia dengan linangan air mata
Ku jaga ia dengan jiwa dan raga
Ku titip harap padanya agar kelak ia berarti
Jadi peneduh di kala terik, kala hujan
Atau menjadi selimut di musim dingin
Pelindung mereka yang lemah

Pengobar api kejujuran

Ketika dunia penuh dusta

Benih Harap (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments



Ku tabur sebintik benih di pematang
Ku kubur ia dengan tanah penuh harap
Ku siram ia dengan linangan air mata
Ku jaga ia dengan jiwa dan raga
Ku titip harap padanya agar kelak ia berarti
Jadi peneduh di kala terik, kala hujan
Atau menjadi selimut di musim dingin
Pelindung mereka yang lemah

Pengobar api kejujuran

Ketika dunia penuh dusta

Hurt (Puisi)


Aku hanya seonggok karang di tepi pantai

Yang hanya terdiam ketika ombak menerjang

Aku hanya setitik embun di pagi hari
Yang mencoba menaklukan dunia dengan kesabaran
Aku hanya sebuah kolam persegi di padang pasir
Terbentuk oleh khayal, ilusi fatamorgana
Aku hanya sebongkah marmer di tengah ladang berlian
Tak berguna, tak berharga, tak berarti
Tapi ijinkanlah aku menyentuhmu
Manghirup aroma indahmu

Akulah si buruk rupa yang mendamba cinta dari sang putri
biarkan rasa ini mengalir, biarkan ia tetap hidup
Mengagumi pada sang putri
Meski kutahu takkan ada balas
Dari sosok yang di damba, dirimu

Hurt (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Aku hanya seonggok karang di tepi pantai

Yang hanya terdiam ketika ombak menerjang

Aku hanya setitik embun di pagi hari
Yang mencoba menaklukan dunia dengan kesabaran
Aku hanya sebuah kolam persegi di padang pasir
Terbentuk oleh khayal, ilusi fatamorgana
Aku hanya sebongkah marmer di tengah ladang berlian
Tak berguna, tak berharga, tak berarti
Tapi ijinkanlah aku menyentuhmu
Manghirup aroma indahmu

Akulah si buruk rupa yang mendamba cinta dari sang putri
biarkan rasa ini mengalir, biarkan ia tetap hidup
Mengagumi pada sang putri
Meski kutahu takkan ada balas
Dari sosok yang di damba, dirimu

Kumbang Kupu Malam (Puisi)


Jatuh kelam
Dalam pendar riak cahya jambrud
Tetes tangis,melodi tawa ria meledak riuh
Tangan – tangan kasar menjelujur ke udara
Meraup lapar pada sang malam
Tubuh – tubuh menggelepar pasrah
Jari jemari meraba liar

Bibir – bibir beradu penuh hasrat

Tetes liur meluber lalu kering di balik bisu
Setengah hati,hingga nanti, hingga mati
Hingga terbit sang mentari

Kumbang Kupu Malam (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Jatuh kelam
Dalam pendar riak cahya jambrud
Tetes tangis,melodi tawa ria meledak riuh
Tangan – tangan kasar menjelujur ke udara
Meraup lapar pada sang malam
Tubuh – tubuh menggelepar pasrah
Jari jemari meraba liar

Bibir – bibir beradu penuh hasrat

Tetes liur meluber lalu kering di balik bisu
Setengah hati,hingga nanti, hingga mati
Hingga terbit sang mentari

Mimpi – Mimpi (Puisi)



Langit semakin kelam terlihat
Sayup – sayup angin menghantam tiap inci
Tiap jengkal kulit tipis, kering
Terbalut aku dalam angin beku

Sekali lagi, jantungku berdegup resah

Mataku masih berkutat dalam gelap
Bersikeras mencari setitik cahya
Walau ku tahu itu sia saja
Kaki dan tangan tak sanggup ku kendalikan lagi
Mereka bergerak bersamaan namun tak seirama
Makin lama, makin larut
Kesunyian ini semakin menelanku
Apa ini?
Inikah impian yang terbuang itu?

Mimpi – Mimpi (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments



Langit semakin kelam terlihat
Sayup – sayup angin menghantam tiap inci
Tiap jengkal kulit tipis, kering
Terbalut aku dalam angin beku

Sekali lagi, jantungku berdegup resah

Mataku masih berkutat dalam gelap
Bersikeras mencari setitik cahya
Walau ku tahu itu sia saja
Kaki dan tangan tak sanggup ku kendalikan lagi
Mereka bergerak bersamaan namun tak seirama
Makin lama, makin larut
Kesunyian ini semakin menelanku
Apa ini?
Inikah impian yang terbuang itu?

Jerit Rintih (Puisi)


Hamparanembun berkilau redup
Cahya mentari merayap kaku di balik kaca
Kicau burung parau mencuri dengar
Tertegun,mengisah pada sang hari
Hujan malam lalu terpatri dalam nurani
Derap rintik parau itu kembali mengiang
Keluh kesah,gundah gulana kemarin malam
Pada penantian tak berujung
Bagai kisah rembulan pada sang malam
Tapi timbul hasrat ketika sang pagi menyapa
Penantian ini kan bertasbih
Ataukah malah aku yang kan berakhir?

Jerit Rintih (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Hamparanembun berkilau redup
Cahya mentari merayap kaku di balik kaca
Kicau burung parau mencuri dengar
Tertegun,mengisah pada sang hari
Hujan malam lalu terpatri dalam nurani
Derap rintik parau itu kembali mengiang
Keluh kesah,gundah gulana kemarin malam
Pada penantian tak berujung
Bagai kisah rembulan pada sang malam
Tapi timbul hasrat ketika sang pagi menyapa
Penantian ini kan bertasbih
Ataukah malah aku yang kan berakhir?

Dusta (Puisi)



Binar tirai bias pelangi
Di bukit rindu bersimbah dusta
Cicit kenari bak raung
Hempas angin darat kala siang
Meregang, mengembang sedari beku
Tertegun, terdiam oleh maya
Palsu, penuh kepalsuan
Amuk debur ombak kala surut

Mentari tersenyum di tengah malam

Bintang berkedip kala terik

Ragaku meronta

Hati berdusta, mata jua
Aku mesti tersenyum,
Tat kala mataku menangis

Dusta (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments



Binar tirai bias pelangi
Di bukit rindu bersimbah dusta
Cicit kenari bak raung
Hempas angin darat kala siang
Meregang, mengembang sedari beku
Tertegun, terdiam oleh maya
Palsu, penuh kepalsuan
Amuk debur ombak kala surut

Mentari tersenyum di tengah malam

Bintang berkedip kala terik

Ragaku meronta

Hati berdusta, mata jua
Aku mesti tersenyum,
Tat kala mataku menangis

Langit ke-7 (Puisi)



Aku ingin terbang

Melesat, menembus batas lapis langit ke tujuh
Membumbung, menyeruak
Menyiak keping awan
Membunuh tiap decit rintih sepi
Yang tak kala merobek
Membungkus hati dan jiwa, hampa
Biar ragaku terbang
Biar ragaku bebas
Sedari gersang, biar ia basah
Guyur dari embun semesta
Hingga tenang, dalam kenang

Langit ke-7 (Puisi)

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments



Aku ingin terbang

Melesat, menembus batas lapis langit ke tujuh
Membumbung, menyeruak
Menyiak keping awan
Membunuh tiap decit rintih sepi
Yang tak kala merobek
Membungkus hati dan jiwa, hampa
Biar ragaku terbang
Biar ragaku bebas
Sedari gersang, biar ia basah
Guyur dari embun semesta
Hingga tenang, dalam kenang

CERPEN : Makamben Disunduk


I Kadẽk Bẽno tuah anak jemet pesan, polos lan dueg di sekolahnẽ, SMA. Ia rajin pesan nulungin mẽmẽ lan bapanẽ di jumahnẽ. Krana ento ia sayanganga pesan tekẽn reramanẽ. Tusing taẽn ia piwal tekẽn pitutur reramanẽ. Apa ja pamunyin reramanẽ jeg lantas katuutang tur kalaksanayang.
Dinanẽ ento dina Soma. Ia suba nganggo baju sekolah. Sadurungnẽ majalan ka sekolah, ia setata nulungin mẽmẽnẽ magarapan dipaon. Patut mabersih-bersih, ngumbah piring, miwah mablanja ka peken. Gegaẽn apa ja anẽ patut gaẽnin ia seleg  gaẽninẽ, krana sing ada lẽnan buin anẽ andelanga tekẽn mẽmẽ lan bapanẽ. I Kadẽk Bẽno menyama tuah pedidina. Sekondẽnẽ ia majalan masuk ia setata mapamit antuk nyalamin liman mẽmẽ lan bapanẽ.
Di sekolah, Dẽk Bẽno metepuk jak timpal – timpalnẽ.
”Dẽk suba ngaẽ PR basa Bali?” I Wayan metakon sambilanga ngemel kertas akesẽtan.
”Silih apa PR kadẽkẽ?” pamunyinẽ I Putu milu – miluan. Dẽk Bẽno nlektekang sebeng timpal – timpalnẽ. Pedalem asananga yen tusing baang.
”Ento di tas rage jemak!” pesautnẽ sambilanga nujuang tongos tasnẽ. I Wayan lan I Putu lantas melaib magrudugan, saling tomplok, saling tuludang, saling pemaluin nyagjagin tasnẽ I Kadẽk Bẽno....
Ttttrrrrẽẽẽẽẽẽttt....ttrrrẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....
Bẽl masuk ka kelas mamunyi. Murid - muridẽ makejang suba pada sayaga di kelasnẽ. Jam pelajahan kapertama maan pelajahan basa Bali anẽ kaajahain olih Bu Wati. I Wayan lan I Putu makenyem girang marep siknẽ I Kadẽk Bẽno. Kendel bayunẽ krana PRnẽ suba suud kagaẽnin.
”Inggih matẽrinẽ sanẽ mangkin ngenẽnin indik singkatan lan akronim...” Bu Wati mamunyi sada alon. ”Ring dinanẽ sanẽ mangkin iraga jagi mlajahin nulis singkatan lan akronim nganggẽ aksara Bali. Sami sampun uning ring singkatan lan akronim punika?”
”Sampun!” pasaut murid – muridẽ sibarengan.
”Inggih singkatan punika contonẽ RRI, TNI, TKR, miwah sanẽ lianan, yẽning akronim punika contone Balita, Pilkada, Depdiknas.......”
Lebian kẽn ajam suba Bu Wati ngemẽl – mẽl sakadi dagang ubad di malun kelasẽ. Nyangsan makelo nyangsan medikang muridẽ anẽ ngrunguang. Ada anẽ nguntul marep kabetẽn mejanẽ, ada anẽ ijek ngambar di kertasẽ, ada anẽ bengong ningalin gurune mapi – mapi mirengang kẽwala ngelamun. I Kadẽk Bẽno anẽ milu med marep kamalu iseng matolihan ka jendelanẽ. Ditu lantas ia makesieng bayunẽ mara ningalin anak luh jegẽg pesan liwat. Bangkiangnẽ rengkiang acekel gonda layu, kulitnẽ putih, tegehnẽ nyempaka, awaknẽ moleh, boknẽ lantang meribonding, kenyemnẽ manis. Anakẽ luh ento madan Luh Diah. Sing nyidang – nyidaang bana negtegang bayunẽ mara nepukin Luh Diah. Jeg gedag – gedug tangkahnẽ, peluhnẽ kanti ngrẽcẽk. Sing leb – leb bana nlektekang Luh Diahẽ ento. Tungkule nlektekang Luh Diah, tusing asanina kẽn deweknẽ bengong marep kesisin kelasẽ. Makesiab lantas ia ningeh munyinẽ Bu Wati
”Dẽk Bẽno! Indayang surat ring papan singkatan ”SNI” antuk aksara Bali”.
Konden tegteg bayunẽ krana nepukin Luh Diah jani suba buin nyangetang gedag – gedug tangkahnẽ lek tekẽn dẽweknẽ tawanga ngelẽn – ngelẽn tekẽn gurunẽ. Nanging kẽto I Kadẽk Bẽno mula anak dueg, ngaluhin ia ngaẽ soal gurunẽ di papan lan beneh pegaẽnẽ.
            Tekẽd jumahnẽ langsung ia ngebahang awaknẽ di kasur pesarẽanẽ. Nu ia inget lan marawat-rawat lawatnẽ Luh Diah. Tumben jani inguh bayunẽ buka kẽnẽ mara nepukin anak luh kẽto nyet dikenehnẽ. Baan inguh bayunẽ, iseng ia ngontak radio di duur mẽja samping balẽnẽ. Ngrereh siaran RBS. Drika lantas pirenga alon – alon suara suling lamat – lamat nyarengin gending semarandana di radionẽ :
Tan prasida baan nampi, paras jegẽg manganyudang, sampun leket ring atine, tan sida baan ngengsapang, saking matemu pertama, sareng Iluh sanẽ ayu, beli trena tekẽn Iluh.
                        Sambilanga masarẽ ia mirengang tembangẽ punika tur mapineh – pineh. Liang asan kenehnẽ krana Luh Diah. Nyasan makelo gending di radionẽ nyasan nganyudang rasa lan manahnẽ Dẽk Bẽno. Iing asan bayunẽ. Anyud asan kenehne lan ensap....
Drika sagẽt di sisin Taman Ujungẽ negak Kadẽk Bẽno jak Luh Diah madampingan. Anginẽ nyirsir disisin Taman Ujungẽ. Kedis - kedisẽ marẽrod lan magending – gending girang di duur punyan jepunẽ, liang lan bagia, sakadi atinẽ Dẽk Bẽno lan Luh Diah nẽ jani.
            ”Luh...” Dẽk Bẽno nyiagang bok anẽ nekepin muanẽ Luh Diah.
”Kenapi Beli?” pasautnẽ Luh Diah sambilanga makenyem manis lek – lekan.
”Luh...Apa Luh tusing ngrasa?”
”Ngrasa napi beli?”
”Luh..beli trasna kẽn iluh, beli bagia yẽn paek jak iluhe!”
Mendep makelo ajaka dadua. Mara lantas Luh Diah masaut...
”Beli...”
”Kenapa Luh?”
”Apang beli nawang, tiang tresna masi ken beli, tiang bagia masi yẽning paek jak beli!”
”seken Luh?”masaut Dẽk Bẽno sakadi tusing ngugu padingeh kupingnẽ..
”Nyak Luh dadi tunangan belinẽ?” munyine Dẽk Bẽno sambilanga ngamel limanẽ Luh Diah makadadua.
Makenyem lantas Luh Diah. Muane barak. Tur masaut
”Nggih beli...tiang nyak dadi tunangan belinẽ!”
Ningeh munyinẽ Luh Diah buka kẽto kendel pesan kenehnẽ Dẽk Bẽno. Sahasa ia majujuk smbilanga ngisi limanẽ Luh Diah Makadadua. Tur tan suud – suud kadiman limanẽ Luh Diah sambilanga kecag – kecog cara anak buduh di sisin Taman Ujungẽ. Sedek demena kecag – kecog sagẽt ”gedebug”. Sagẽt dapetanga awaknẽ makayagan di batan balẽ pasareanẽ sambilanga ngelut galeng guling. Mara lantas ia inget kẽn dẽwẽknẽ tuah ngipi. Ngipi matunangan jak Luh Diah.
Awai, duang wai, aminggu, abulan kanti nem bulan suba liwat uling dugasẽ ento. Tan sida – sida bana Kadẽk Bẽno ngengsapang padẽwẽkan kajegẽgan Luh Diah. Girang asan bayunẽ sabilang maan nepukin Luh Diah disekolahan. Apa buin maan nepukin kenyemnẽ Luh Diah anẽ nyunyur manis jeg sing makita madaar sing makita nginem jeg duga baan telung wai. I Kadẽk Bẽno marerasan ajak dẽweknẽ padidi. Minab ia sanget tresna tekẽn Luh Diah. Sakẽwala dẽweknẽ sing juari ngeraos ngoraang tresna tekẽn Luh Diah. Kalingkẽ lakar ngoraang tresna, mara matepuk dogẽn ngajak Luh Diah tangkahnẽ suba nurdar. Limannẽ ngejer, prajani ia dadi nak kolok. Sing nyidaang ngeraos apa – apa.
            Petengẽ ngungkulin jagat. anginẽ nyirsir dingin kadi ẽs. Sepi, suung sakadi atine Kadẽk Bẽno sanẽ mangkin. ”Muani getap!” plak ia ngeplakin bibihnẽ sambilanga ningalin bulan lan bintang dilangitẽ uli balẽ dauh umahnẽ. Ditu ia negak mangenang baan getap dẽweknẽ. ”Ngorahang tresna dogen sing juari!” plak buin ia ngeplakin bibihnẽ.
            Tusing kerasa atiban suba liwat, kondẽn masi ia ngorahang tresnanẽ tekẽn Luh Diah. Sing nyidaang baana  naanang buin. Buin mani dimulih sekolahẽ ia lakar ngajak Luh Diah maraosan, ngorahang tresnanẽ. Keto nyantep munyinẽ tekẽn dẽweknẽ padidi.
Buin maninẽ di sekolah mapapasan ia ajak Luh Diah dimalun perpustakaanẽ. Ia ajak Luh Diah tuah saling kenyemin, nanging tusing ada raos anẽ pesu uli bibihnẽ Dẽk Bẽno.
Ttttrrrrẽẽẽẽẽẽttt....ttrrrẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....
            Bẽl mulih sekolahẽ mamunyi, makejang muridẽ magrudugan pesu uling kelasẽ. Kadẽk Bẽno masuang bunga mawar akatih anẽ suba mabungkus uling tengah tasnẽ. Nurdar bayunẽ majalan sambilanga nyekel bunga mawarẽ ento. Nyantep suba jani kenehnẽ. Tusing ada jani anẽ nyidaang nyantulin kenehnẽ lakar ngorahang tresna tekẽn Luh Diah.
Makelo suba ia ngindeng ngalihin Luh Diah. Nanging tusing tepuk – tepukina. Di koperasi, di perpustakaan, di lapangan kanti di tongos parkir alihina tusing tepukine masi. Nu minab di kelasnẽ? Kẽto kenehnẽ Kadẽk Bẽno. Iseng – iseng ia ningalin di kelasnẽ Luh Diah. Ditu tepukina pintu kelasnẽ matutup atenga. Lantas majalan ia maekin kelasẽ ento. Uling selag – selagan pintunẽ ia ningalin ada anak ditu. Anak luh ngajak anak muani. Buin seken sekenanga ningalin. Mara makejutan asan awaknẽ. Belah asan tangkahne. Ditu tepukina Luh Diah ngajak anak muani sedek magelut lan madiman. Tusing kerasa kelẽs kanti bunga mawar anẽ gisina. Inget ia kẽn gending maskumambang anẽ sesai pirenga di radionẽ :
Lacur pisan, pitresnan tiange mankin,
adi tresnan tiang, jani suba mangalahin, ngajak muani elenan.
Tan sida ia ngandet pesun yẽh matanẽ. Tan suud – suud ia ngupet dẽweknẽ padidi. Lek, sebet, jengah, gedeg ia kẽn dẽweknẽ padidi. Buung suba kenehnẽ ukana ngorahang tresnanẽ. Jani Luh Diah suba dadi gelah anak, suba dadi tunangan anak lẽn. Nyelsel dẽweknẽ tusing ngamaluin ngorahang tresna, sakadi bladbadan makamben disunduk. Nanging ia tusing bes sanget sebet, lega masi kenehnẽ ningalin Luh Diah bagia, yadiastun tresnanẽ tekẽn Luh Diah tan prasida mabesikan.

by : NJA'11


CERPEN : Makamben Disunduk

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


I Kadẽk Bẽno tuah anak jemet pesan, polos lan dueg di sekolahnẽ, SMA. Ia rajin pesan nulungin mẽmẽ lan bapanẽ di jumahnẽ. Krana ento ia sayanganga pesan tekẽn reramanẽ. Tusing taẽn ia piwal tekẽn pitutur reramanẽ. Apa ja pamunyin reramanẽ jeg lantas katuutang tur kalaksanayang.
Dinanẽ ento dina Soma. Ia suba nganggo baju sekolah. Sadurungnẽ majalan ka sekolah, ia setata nulungin mẽmẽnẽ magarapan dipaon. Patut mabersih-bersih, ngumbah piring, miwah mablanja ka peken. Gegaẽn apa ja anẽ patut gaẽnin ia seleg  gaẽninẽ, krana sing ada lẽnan buin anẽ andelanga tekẽn mẽmẽ lan bapanẽ. I Kadẽk Bẽno menyama tuah pedidina. Sekondẽnẽ ia majalan masuk ia setata mapamit antuk nyalamin liman mẽmẽ lan bapanẽ.
Di sekolah, Dẽk Bẽno metepuk jak timpal – timpalnẽ.
”Dẽk suba ngaẽ PR basa Bali?” I Wayan metakon sambilanga ngemel kertas akesẽtan.
”Silih apa PR kadẽkẽ?” pamunyinẽ I Putu milu – miluan. Dẽk Bẽno nlektekang sebeng timpal – timpalnẽ. Pedalem asananga yen tusing baang.
”Ento di tas rage jemak!” pesautnẽ sambilanga nujuang tongos tasnẽ. I Wayan lan I Putu lantas melaib magrudugan, saling tomplok, saling tuludang, saling pemaluin nyagjagin tasnẽ I Kadẽk Bẽno....
Ttttrrrrẽẽẽẽẽẽttt....ttrrrẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....
Bẽl masuk ka kelas mamunyi. Murid - muridẽ makejang suba pada sayaga di kelasnẽ. Jam pelajahan kapertama maan pelajahan basa Bali anẽ kaajahain olih Bu Wati. I Wayan lan I Putu makenyem girang marep siknẽ I Kadẽk Bẽno. Kendel bayunẽ krana PRnẽ suba suud kagaẽnin.
”Inggih matẽrinẽ sanẽ mangkin ngenẽnin indik singkatan lan akronim...” Bu Wati mamunyi sada alon. ”Ring dinanẽ sanẽ mangkin iraga jagi mlajahin nulis singkatan lan akronim nganggẽ aksara Bali. Sami sampun uning ring singkatan lan akronim punika?”
”Sampun!” pasaut murid – muridẽ sibarengan.
”Inggih singkatan punika contonẽ RRI, TNI, TKR, miwah sanẽ lianan, yẽning akronim punika contone Balita, Pilkada, Depdiknas.......”
Lebian kẽn ajam suba Bu Wati ngemẽl – mẽl sakadi dagang ubad di malun kelasẽ. Nyangsan makelo nyangsan medikang muridẽ anẽ ngrunguang. Ada anẽ nguntul marep kabetẽn mejanẽ, ada anẽ ijek ngambar di kertasẽ, ada anẽ bengong ningalin gurune mapi – mapi mirengang kẽwala ngelamun. I Kadẽk Bẽno anẽ milu med marep kamalu iseng matolihan ka jendelanẽ. Ditu lantas ia makesieng bayunẽ mara ningalin anak luh jegẽg pesan liwat. Bangkiangnẽ rengkiang acekel gonda layu, kulitnẽ putih, tegehnẽ nyempaka, awaknẽ moleh, boknẽ lantang meribonding, kenyemnẽ manis. Anakẽ luh ento madan Luh Diah. Sing nyidang – nyidaang bana negtegang bayunẽ mara nepukin Luh Diah. Jeg gedag – gedug tangkahnẽ, peluhnẽ kanti ngrẽcẽk. Sing leb – leb bana nlektekang Luh Diahẽ ento. Tungkule nlektekang Luh Diah, tusing asanina kẽn deweknẽ bengong marep kesisin kelasẽ. Makesiab lantas ia ningeh munyinẽ Bu Wati
”Dẽk Bẽno! Indayang surat ring papan singkatan ”SNI” antuk aksara Bali”.
Konden tegteg bayunẽ krana nepukin Luh Diah jani suba buin nyangetang gedag – gedug tangkahnẽ lek tekẽn dẽweknẽ tawanga ngelẽn – ngelẽn tekẽn gurunẽ. Nanging kẽto I Kadẽk Bẽno mula anak dueg, ngaluhin ia ngaẽ soal gurunẽ di papan lan beneh pegaẽnẽ.
            Tekẽd jumahnẽ langsung ia ngebahang awaknẽ di kasur pesarẽanẽ. Nu ia inget lan marawat-rawat lawatnẽ Luh Diah. Tumben jani inguh bayunẽ buka kẽnẽ mara nepukin anak luh kẽto nyet dikenehnẽ. Baan inguh bayunẽ, iseng ia ngontak radio di duur mẽja samping balẽnẽ. Ngrereh siaran RBS. Drika lantas pirenga alon – alon suara suling lamat – lamat nyarengin gending semarandana di radionẽ :
Tan prasida baan nampi, paras jegẽg manganyudang, sampun leket ring atine, tan sida baan ngengsapang, saking matemu pertama, sareng Iluh sanẽ ayu, beli trena tekẽn Iluh.
                        Sambilanga masarẽ ia mirengang tembangẽ punika tur mapineh – pineh. Liang asan kenehnẽ krana Luh Diah. Nyasan makelo gending di radionẽ nyasan nganyudang rasa lan manahnẽ Dẽk Bẽno. Iing asan bayunẽ. Anyud asan kenehne lan ensap....
Drika sagẽt di sisin Taman Ujungẽ negak Kadẽk Bẽno jak Luh Diah madampingan. Anginẽ nyirsir disisin Taman Ujungẽ. Kedis - kedisẽ marẽrod lan magending – gending girang di duur punyan jepunẽ, liang lan bagia, sakadi atinẽ Dẽk Bẽno lan Luh Diah nẽ jani.
            ”Luh...” Dẽk Bẽno nyiagang bok anẽ nekepin muanẽ Luh Diah.
”Kenapi Beli?” pasautnẽ Luh Diah sambilanga makenyem manis lek – lekan.
”Luh...Apa Luh tusing ngrasa?”
”Ngrasa napi beli?”
”Luh..beli trasna kẽn iluh, beli bagia yẽn paek jak iluhe!”
Mendep makelo ajaka dadua. Mara lantas Luh Diah masaut...
”Beli...”
”Kenapa Luh?”
”Apang beli nawang, tiang tresna masi ken beli, tiang bagia masi yẽning paek jak beli!”
”seken Luh?”masaut Dẽk Bẽno sakadi tusing ngugu padingeh kupingnẽ..
”Nyak Luh dadi tunangan belinẽ?” munyine Dẽk Bẽno sambilanga ngamel limanẽ Luh Diah makadadua.
Makenyem lantas Luh Diah. Muane barak. Tur masaut
”Nggih beli...tiang nyak dadi tunangan belinẽ!”
Ningeh munyinẽ Luh Diah buka kẽto kendel pesan kenehnẽ Dẽk Bẽno. Sahasa ia majujuk smbilanga ngisi limanẽ Luh Diah Makadadua. Tur tan suud – suud kadiman limanẽ Luh Diah sambilanga kecag – kecog cara anak buduh di sisin Taman Ujungẽ. Sedek demena kecag – kecog sagẽt ”gedebug”. Sagẽt dapetanga awaknẽ makayagan di batan balẽ pasareanẽ sambilanga ngelut galeng guling. Mara lantas ia inget kẽn dẽwẽknẽ tuah ngipi. Ngipi matunangan jak Luh Diah.
Awai, duang wai, aminggu, abulan kanti nem bulan suba liwat uling dugasẽ ento. Tan sida – sida bana Kadẽk Bẽno ngengsapang padẽwẽkan kajegẽgan Luh Diah. Girang asan bayunẽ sabilang maan nepukin Luh Diah disekolahan. Apa buin maan nepukin kenyemnẽ Luh Diah anẽ nyunyur manis jeg sing makita madaar sing makita nginem jeg duga baan telung wai. I Kadẽk Bẽno marerasan ajak dẽweknẽ padidi. Minab ia sanget tresna tekẽn Luh Diah. Sakẽwala dẽweknẽ sing juari ngeraos ngoraang tresna tekẽn Luh Diah. Kalingkẽ lakar ngoraang tresna, mara matepuk dogẽn ngajak Luh Diah tangkahnẽ suba nurdar. Limannẽ ngejer, prajani ia dadi nak kolok. Sing nyidaang ngeraos apa – apa.
            Petengẽ ngungkulin jagat. anginẽ nyirsir dingin kadi ẽs. Sepi, suung sakadi atine Kadẽk Bẽno sanẽ mangkin. ”Muani getap!” plak ia ngeplakin bibihnẽ sambilanga ningalin bulan lan bintang dilangitẽ uli balẽ dauh umahnẽ. Ditu ia negak mangenang baan getap dẽweknẽ. ”Ngorahang tresna dogen sing juari!” plak buin ia ngeplakin bibihnẽ.
            Tusing kerasa atiban suba liwat, kondẽn masi ia ngorahang tresnanẽ tekẽn Luh Diah. Sing nyidaang baana  naanang buin. Buin mani dimulih sekolahẽ ia lakar ngajak Luh Diah maraosan, ngorahang tresnanẽ. Keto nyantep munyinẽ tekẽn dẽweknẽ padidi.
Buin maninẽ di sekolah mapapasan ia ajak Luh Diah dimalun perpustakaanẽ. Ia ajak Luh Diah tuah saling kenyemin, nanging tusing ada raos anẽ pesu uli bibihnẽ Dẽk Bẽno.
Ttttrrrrẽẽẽẽẽẽttt....ttrrrẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....tttrrẽẽẽẽẽẽttt.....
            Bẽl mulih sekolahẽ mamunyi, makejang muridẽ magrudugan pesu uling kelasẽ. Kadẽk Bẽno masuang bunga mawar akatih anẽ suba mabungkus uling tengah tasnẽ. Nurdar bayunẽ majalan sambilanga nyekel bunga mawarẽ ento. Nyantep suba jani kenehnẽ. Tusing ada jani anẽ nyidaang nyantulin kenehnẽ lakar ngorahang tresna tekẽn Luh Diah.
Makelo suba ia ngindeng ngalihin Luh Diah. Nanging tusing tepuk – tepukina. Di koperasi, di perpustakaan, di lapangan kanti di tongos parkir alihina tusing tepukine masi. Nu minab di kelasnẽ? Kẽto kenehnẽ Kadẽk Bẽno. Iseng – iseng ia ningalin di kelasnẽ Luh Diah. Ditu tepukina pintu kelasnẽ matutup atenga. Lantas majalan ia maekin kelasẽ ento. Uling selag – selagan pintunẽ ia ningalin ada anak ditu. Anak luh ngajak anak muani. Buin seken sekenanga ningalin. Mara makejutan asan awaknẽ. Belah asan tangkahne. Ditu tepukina Luh Diah ngajak anak muani sedek magelut lan madiman. Tusing kerasa kelẽs kanti bunga mawar anẽ gisina. Inget ia kẽn gending maskumambang anẽ sesai pirenga di radionẽ :
Lacur pisan, pitresnan tiange mankin,
adi tresnan tiang, jani suba mangalahin, ngajak muani elenan.
Tan sida ia ngandet pesun yẽh matanẽ. Tan suud – suud ia ngupet dẽweknẽ padidi. Lek, sebet, jengah, gedeg ia kẽn dẽweknẽ padidi. Buung suba kenehnẽ ukana ngorahang tresnanẽ. Jani Luh Diah suba dadi gelah anak, suba dadi tunangan anak lẽn. Nyelsel dẽweknẽ tusing ngamaluin ngorahang tresna, sakadi bladbadan makamben disunduk. Nanging ia tusing bes sanget sebet, lega masi kenehnẽ ningalin Luh Diah bagia, yadiastun tresnanẽ tekẽn Luh Diah tan prasida mabesikan.

by : NJA'11


CERPEN : Lelaki dan Sebatang Lilin


Malam mulai larut. Angin malam terasa menusuk hingga persendian dan tulang – tulang. Langit mendung. Tak tampak setitikpun cahaya dikejauhan. Gelap. Sunyi. Satu – satunya yang menerangi ruang pengap itu hanya sebatang lilin cebol yang sudah hampir padam. Seperti menanti kematian. Lalu tertelan gelap yang pekat. Pria dalam ruang itu masih duduk bersidekap. Menatap lilin yang hampir padam malah membuatnya bergairah. Seperti menemukan lagi gairah jiwa mudanya. Sungguh. Rambut yang mulai memutih dan rontok. Kerut – kerut didahi, atau gigi yang tanggal. Jelas itu seperti fantasi yang mengarah pada realita. Ia seakan mulai percaya pada kenyataan.
Mimpinya kemarin malam kelewat indah kalau bisa di bilang. Ada seorang pria. Begitu gagah. Terlihat kuat. Berani. Otot – otot menyembul dari balik bajunya yang robek dan kotor. Meringkuk di bawah pohon ketapang. Matanya tak berkedip melihat perempuan di seberang. Begitu elok tubuhnya menari. Meliuk – liuk dengan anggun. Kecantikan yang mempesona. Wajahnya bundar. Senyum yang menawan. Sungguh perempuan mempesona pria di bawah pohon ketapang itu. Lalu sekejap mata mimpi itu buyar. Menghilang entah kemana. Mungkin saja malam telah membawanya pergi. Pria itu berkali – kali mengusap wajahnya. Seakan ada yang salah. Kembali ia mengingat – ingat mimpinya kala itu.  Ia merasa itu bukan hanya sekedar mimpi. Ia ingat. Seperti ia ingat beberapa hari kemudian pria itu mengirim sepucuk surat berisi puisi yang berjudul ”harapku pada cintamu” untuk mengungkapkan perasaannya pada orang yang di cinta. Perempuan itu :

Aku hanya seonggok karang di tepi pantai
Yang hanya terdiam ketika ombak menerjang
Aku hanya setitik embun di pagi hari
Yang coba taklukkan dunia dengan kesabaran
Aku hanya sebuah kolam persegi di padang pasir
Hanya khayal, tak pernah ada
Aku hanya sebongkah marmer di tengah ladang berlian
Tak berguna, tak berharga, tak berarti
Tapi bolehkah aku mendapatkan cintamu? Bersamamu?
Karna akulah si buruk rupa yang mendamba cinta dari sang putri,
Darimu...

 Kata – kata itu seakan baru saja didengarnya. Bukankah semua memang pernah terjadi? Berpuluh – puluh tahun yang lalu. Ia masih sanggup mengingatnya. Ialah pria itu.

* * *

            Bau dalam ruang pengap itu sungguh aneh. Sedang api diatas lilin itu mulai meliuk – liuk liar terhempas angin yang berhasil menerobos celah – celah dinding rumah.
”Sayang lihat  lilin itu indah bukan” kata Pria itu sambil lalu. Perempuan yang dipanggil ”sayang” itu tak bergeming. Hanya terdiam. Seakan juga ia sibuk dengan fantasinya sendiri. Lelaki itu tak begitu memperhatikannya. Ia terus saja mengoceh. Menatap api yang menjulur – julur di atas lilin membuatnya semakin bergairah. Ada rasa berbeda. Seperti kekuatan. Api yang membara, menjilat – jilat liar, tak terkendali. Matanya tak berkedip. Ada ingatan – ingatan yang terselip di sela – sela api yang berkobar. Waktu muda dulu. Betapa kuat ia. Semangat yang membara. Otot – otot yang perkasa, kuat. Juga keberanian. Mirip api itu.
            Malam demi malam mulai menyelimuti kembali. Pria itu seakan tak punya pilihan. Malam datang tak pernah memberinya kebebasan. Selalu mengekang. Ia selalu bingung darimana harus memulai. Malam selalu membawa kebuntuan pada tiap cara pikirnya. Otaknya seolah dihampiri kegelapan seperti malam. Memaksanya menyalakan lentera – lentera otaknya yang perlahan mulai redup. Seperti usianya.
            ”Malam ini masih begitu panjang ya sayang...” Pria itu berdehan.
”Tapi lilin itu kelihatannya tak bisa begitu lama lagi menemani kita. Ia akan pergi sayang. Pergi jauh. Meninggalkan kita...” Pria itu terus berceloteh pada perempuan disebelahnya yang terlihat begitu acuh. Ada sedikit kecemasan yang terlintas. Bertemu malam yang pekat. Tanpa bintang. Udara dingin yang menusuk - nusuk tulang. Tapi kenapa itu harus terasa begitu asing? Bukankah mereka lebih mirip santapan makan malam. Bersama perempuan. Pria itu selalu melewati malam bersama. Perempuan yang teramat dicintainya.
            Pernah, disuatu malam. Juga pekat dan dingin. Matahari telah lama tenggelam. Melangkah diantara ilalang. Lelaki itu berusaha menyusuri malam. Sendiri. Menyusurinya dengan agak berbeda. Tongkat kayu erat digemgamannya. Terlihat rapuh, namun cukup kuat untuk menopang tubuhnya yang mulai bongkok. Ditatapnya hamparan gelap di depannya. Seperti lautan pekat, tak berujung. Ratusan bahkan ribuan kupu – kupu tiba – tiba muncul dari gelap barat daya. Terbang dengan terseok – seok. Tertimpa cahya rembulan, mereka seakan menari – nari pada panggung lautan pekat itu. Malam. Dan berlalu. Menyisakan kesunyian lagi.

* * *

            Ditatapnya wajah perempuan itu lekat. Kegalauannya seakan sirna. Bukankah perempuan itu selalu setia menemaninya? Selalu siap menerima celotehnya yang seakan tak ada habisnya. Berdua. Melewati malam – malam sebelumnya. Lebih gelap. Lebih menusuk tulang belulang. Malam – malam yang tak berujung seperti celotehnya yang selalu menggema di ruang pengap.
            Lelaki tua itu berdehan lagi. Lagi ditatapnya  wajah perempuan disebelahnya. Sungguh – sungguh. Ia, si perempuan dalam ruang pengap itu. Terlihat seperti sedang tertidur. Terlentang. Kedua matanya terpejam. Kedua tangan terlipat rapi di atas perut. Aneh. Kenapa ia bisa begitu acuh pada sekitar. Dingin yang begitu menusuk atau nyamuk yang sesekali menggigit, mencuri darah. Kenapa ia seperti tak merasakannya? Wajahnya, bahkan sekujur tubuhnya pucat. Ia seperti sedang menahan sakit. Sakit yang teramat sangat. Tak terungkap.
            Perempuan itu masih tergeletak dalam ruang pengap itu. Yang membuatnya makin aneh. Wajahnya jelas tak sesuai dengan umurnya sekarang. Bulat. Tak ada kerut – kerut. Muda. Masih tetap sama seperti ketika si pria melihatnya enam puluh dua  tahun yang lalu. Persis seperti ketika Pria itu melihatnya sedang menari – nari dengan elok. Sambil meringkuk di bawah pohon ketapang.
Di wajahnya. Wajah perempuan itu seperti tertulis sebuah misteri. Mengerikan. Tapi pria itu sepertinya tak melihatnya. Raut wajah yang penuh misteri. Seakan hendak berkisah tentang keabadian. Mungkinkah beberapa orang didunia terlahir untuk abadi? Sepertinya, perempuan dalam ruang pengap itu. Atau mungkin berliter – liter formalin yang disuntikkan pria itu padanya telah bekerja. Menjadikannya abadi. Tapi kenapa... Kenapa ia terlihat tak begitu menyukainya? Apakah keabadian itu menyakitkan?
            Lelaki itu tertegun. Naluri telah membawanya pada suatu pilihan. Menyakitkan. Pedih. Malam kian larut. Petir. Geledek. Bersahut – sahutan. Seperti sebuah pertikaian yang sengit. Membawa gemuruh tangis. Air mata yang tak terbendung. Hujang yang turun begitu deras. Meronta – ronta. Mengamuk. Seperti suara sebuah kebebasan. Kilatan cahaya yang sesekali menerangi langit. Angin yang berhembus liar. Tiang – tiang bambu yang berkereot. Atap – atap jerami yang berhamburan. Bocor. Air yang menetes di ubun – ubun. Mengalir. Perlahan membanjiri ruang pengap.
Di luar kelihatan tak aman. Dalam ruang pengap malah terasa lebih berbahaya. Pria itu membatin gubuk tuanya akan ambruk. Terhempas tiap kali badai menerjang. Tiang – tiang bambu lapuk yang berkereot seperti sebuah peringatan. Tapi ia tak punya pilihan. Diraihnya tubuh perempuan disebelahnya. Ia masih tertidur. Di peluknya. Erat. Meringkuk di tanah. Hanya beralas kain perca. Berharap dapat menepis dingin yang kian menusuk seiring malam yang kian larut. Lilin yang tadi berkobar telah lama padam.
Pria itu sadar. Bahwa ia, seperti halnya lilin itu. Cepat atau lambat akan berakhir. Tak peduli seberapa kuat, seberapa berani ia dulu. Seperti juga ia sadar betapa lemah tangan dan kakinya.
Pria itu semakin gelisah. Hatinya mencelos tiap teringat masa lalu. Terlalu banyak hal yang mengganjal hatinya. Terlalu sakit untuk mengingat semua itu. Ia sadar telah begitu egois. Memaksa keabadian itu bersamanya. Menemaninya. Ditemani perempuan dengan keabadiannya yang semu. Hampir tiap malam. Hanya berdua. Tak lupa juga sebatang lilin. Penerang dimalam yang selalu mengerikan. Menakutkan. Malam yang luas dan tak berujung.
Malam seakan menjadi suatu pertanda. Pertanda petualangan mereka akan segera dimulai. Dalam kegelapan. Kesunyian yang menyakitkan. Memulai celoteh yang hampir sama tak berujungnya seperti malam. Jangkrik – jangkrik yang sesekali berkerikik. Atau burung hantu berkukuk dalam. Pertanda malam telah jauh. Lalu sunyi kembali.
Baginya perempuan itu telah memberinya kenyamanan. Tak ada yang lebih indah dari berbagi kehangatan bersama orang yang dicinta. Setidaknya ada rasa nyaman. Ditemani perempuan yang selalu siap berbagi kehangatan dengannya. Ditengah malam yang dingin. Malam – malam yang tak ada habisnya.
Saat kesepian mulai menggerogoti, perempuan itu akan selalu ada untuknya. Memulai rintih dan celotehnya seperti memulai malam yang takkan pernah ada akhirnya. Berdua. Selalu hanya berdua. Ketika pria itu merasa rindu. Mereka akan meringkuk bersama. Berbagi kehangatan. Hingga esok. Ketika mentari mulai menyongsong. Embun pagi mulai meleleh di dedaunan. Bunga yang bermekaran. Atau burung – burung berkicau riuh sebagai pertanda malam telah berakhir.
Hujan di luar makin lama makin deras. Tak begitu peduli. Suara – suara kebebasan yang bertamabah histeris. Petir. Geledek. Seakan tak mau kalah. Masih sibuk dengan pertikaian mereka yang kian sengit.
”Sayang” kata pria itu mengigil.
”Peganglah tanganku ini, peluklah tubuhku sekuat – kuatnya. Jangan takut, Bukankah kita akan selalu bersama. Seperti janji kita dulu” Perempuan itu hanya terdiam. Membisu. Pria itu berkata dengan terbata – bata.. Lidahnya seakan membeku. Makin kuat. Makin erat, ia memeluk tubuh perempuan disebelahnya. Seperti mengharap kehangatan lebih. Begitu erat. Hingga tubuh mereka seakan menyatu. Bibir – bibir hampir beradu. Masih meringkuk. Diatas kain perca yang mulai basah. Menggigil. Detak jantung yang memburu. Desah napas yang berkabut. Membasahi wajah. Tapi perempuan itu kelihatan tak bernapas. Ia mati. Atau mungkin memang telah lama mati.

by  NJA'11

CERPEN : Lelaki dan Sebatang Lilin

Posted by Ngurah Jaya Antara No comments


Malam mulai larut. Angin malam terasa menusuk hingga persendian dan tulang – tulang. Langit mendung. Tak tampak setitikpun cahaya dikejauhan. Gelap. Sunyi. Satu – satunya yang menerangi ruang pengap itu hanya sebatang lilin cebol yang sudah hampir padam. Seperti menanti kematian. Lalu tertelan gelap yang pekat. Pria dalam ruang itu masih duduk bersidekap. Menatap lilin yang hampir padam malah membuatnya bergairah. Seperti menemukan lagi gairah jiwa mudanya. Sungguh. Rambut yang mulai memutih dan rontok. Kerut – kerut didahi, atau gigi yang tanggal. Jelas itu seperti fantasi yang mengarah pada realita. Ia seakan mulai percaya pada kenyataan.
Mimpinya kemarin malam kelewat indah kalau bisa di bilang. Ada seorang pria. Begitu gagah. Terlihat kuat. Berani. Otot – otot menyembul dari balik bajunya yang robek dan kotor. Meringkuk di bawah pohon ketapang. Matanya tak berkedip melihat perempuan di seberang. Begitu elok tubuhnya menari. Meliuk – liuk dengan anggun. Kecantikan yang mempesona. Wajahnya bundar. Senyum yang menawan. Sungguh perempuan mempesona pria di bawah pohon ketapang itu. Lalu sekejap mata mimpi itu buyar. Menghilang entah kemana. Mungkin saja malam telah membawanya pergi. Pria itu berkali – kali mengusap wajahnya. Seakan ada yang salah. Kembali ia mengingat – ingat mimpinya kala itu.  Ia merasa itu bukan hanya sekedar mimpi. Ia ingat. Seperti ia ingat beberapa hari kemudian pria itu mengirim sepucuk surat berisi puisi yang berjudul ”harapku pada cintamu” untuk mengungkapkan perasaannya pada orang yang di cinta. Perempuan itu :

Aku hanya seonggok karang di tepi pantai
Yang hanya terdiam ketika ombak menerjang
Aku hanya setitik embun di pagi hari
Yang coba taklukkan dunia dengan kesabaran
Aku hanya sebuah kolam persegi di padang pasir
Hanya khayal, tak pernah ada
Aku hanya sebongkah marmer di tengah ladang berlian
Tak berguna, tak berharga, tak berarti
Tapi bolehkah aku mendapatkan cintamu? Bersamamu?
Karna akulah si buruk rupa yang mendamba cinta dari sang putri,
Darimu...

 Kata – kata itu seakan baru saja didengarnya. Bukankah semua memang pernah terjadi? Berpuluh – puluh tahun yang lalu. Ia masih sanggup mengingatnya. Ialah pria itu.

* * *

            Bau dalam ruang pengap itu sungguh aneh. Sedang api diatas lilin itu mulai meliuk – liuk liar terhempas angin yang berhasil menerobos celah – celah dinding rumah.
”Sayang lihat  lilin itu indah bukan” kata Pria itu sambil lalu. Perempuan yang dipanggil ”sayang” itu tak bergeming. Hanya terdiam. Seakan juga ia sibuk dengan fantasinya sendiri. Lelaki itu tak begitu memperhatikannya. Ia terus saja mengoceh. Menatap api yang menjulur – julur di atas lilin membuatnya semakin bergairah. Ada rasa berbeda. Seperti kekuatan. Api yang membara, menjilat – jilat liar, tak terkendali. Matanya tak berkedip. Ada ingatan – ingatan yang terselip di sela – sela api yang berkobar. Waktu muda dulu. Betapa kuat ia. Semangat yang membara. Otot – otot yang perkasa, kuat. Juga keberanian. Mirip api itu.
            Malam demi malam mulai menyelimuti kembali. Pria itu seakan tak punya pilihan. Malam datang tak pernah memberinya kebebasan. Selalu mengekang. Ia selalu bingung darimana harus memulai. Malam selalu membawa kebuntuan pada tiap cara pikirnya. Otaknya seolah dihampiri kegelapan seperti malam. Memaksanya menyalakan lentera – lentera otaknya yang perlahan mulai redup. Seperti usianya.
            ”Malam ini masih begitu panjang ya sayang...” Pria itu berdehan.
”Tapi lilin itu kelihatannya tak bisa begitu lama lagi menemani kita. Ia akan pergi sayang. Pergi jauh. Meninggalkan kita...” Pria itu terus berceloteh pada perempuan disebelahnya yang terlihat begitu acuh. Ada sedikit kecemasan yang terlintas. Bertemu malam yang pekat. Tanpa bintang. Udara dingin yang menusuk - nusuk tulang. Tapi kenapa itu harus terasa begitu asing? Bukankah mereka lebih mirip santapan makan malam. Bersama perempuan. Pria itu selalu melewati malam bersama. Perempuan yang teramat dicintainya.
            Pernah, disuatu malam. Juga pekat dan dingin. Matahari telah lama tenggelam. Melangkah diantara ilalang. Lelaki itu berusaha menyusuri malam. Sendiri. Menyusurinya dengan agak berbeda. Tongkat kayu erat digemgamannya. Terlihat rapuh, namun cukup kuat untuk menopang tubuhnya yang mulai bongkok. Ditatapnya hamparan gelap di depannya. Seperti lautan pekat, tak berujung. Ratusan bahkan ribuan kupu – kupu tiba – tiba muncul dari gelap barat daya. Terbang dengan terseok – seok. Tertimpa cahya rembulan, mereka seakan menari – nari pada panggung lautan pekat itu. Malam. Dan berlalu. Menyisakan kesunyian lagi.

* * *

            Ditatapnya wajah perempuan itu lekat. Kegalauannya seakan sirna. Bukankah perempuan itu selalu setia menemaninya? Selalu siap menerima celotehnya yang seakan tak ada habisnya. Berdua. Melewati malam – malam sebelumnya. Lebih gelap. Lebih menusuk tulang belulang. Malam – malam yang tak berujung seperti celotehnya yang selalu menggema di ruang pengap.
            Lelaki tua itu berdehan lagi. Lagi ditatapnya  wajah perempuan disebelahnya. Sungguh – sungguh. Ia, si perempuan dalam ruang pengap itu. Terlihat seperti sedang tertidur. Terlentang. Kedua matanya terpejam. Kedua tangan terlipat rapi di atas perut. Aneh. Kenapa ia bisa begitu acuh pada sekitar. Dingin yang begitu menusuk atau nyamuk yang sesekali menggigit, mencuri darah. Kenapa ia seperti tak merasakannya? Wajahnya, bahkan sekujur tubuhnya pucat. Ia seperti sedang menahan sakit. Sakit yang teramat sangat. Tak terungkap.
            Perempuan itu masih tergeletak dalam ruang pengap itu. Yang membuatnya makin aneh. Wajahnya jelas tak sesuai dengan umurnya sekarang. Bulat. Tak ada kerut – kerut. Muda. Masih tetap sama seperti ketika si pria melihatnya enam puluh dua  tahun yang lalu. Persis seperti ketika Pria itu melihatnya sedang menari – nari dengan elok. Sambil meringkuk di bawah pohon ketapang.
Di wajahnya. Wajah perempuan itu seperti tertulis sebuah misteri. Mengerikan. Tapi pria itu sepertinya tak melihatnya. Raut wajah yang penuh misteri. Seakan hendak berkisah tentang keabadian. Mungkinkah beberapa orang didunia terlahir untuk abadi? Sepertinya, perempuan dalam ruang pengap itu. Atau mungkin berliter – liter formalin yang disuntikkan pria itu padanya telah bekerja. Menjadikannya abadi. Tapi kenapa... Kenapa ia terlihat tak begitu menyukainya? Apakah keabadian itu menyakitkan?
            Lelaki itu tertegun. Naluri telah membawanya pada suatu pilihan. Menyakitkan. Pedih. Malam kian larut. Petir. Geledek. Bersahut – sahutan. Seperti sebuah pertikaian yang sengit. Membawa gemuruh tangis. Air mata yang tak terbendung. Hujang yang turun begitu deras. Meronta – ronta. Mengamuk. Seperti suara sebuah kebebasan. Kilatan cahaya yang sesekali menerangi langit. Angin yang berhembus liar. Tiang – tiang bambu yang berkereot. Atap – atap jerami yang berhamburan. Bocor. Air yang menetes di ubun – ubun. Mengalir. Perlahan membanjiri ruang pengap.
Di luar kelihatan tak aman. Dalam ruang pengap malah terasa lebih berbahaya. Pria itu membatin gubuk tuanya akan ambruk. Terhempas tiap kali badai menerjang. Tiang – tiang bambu lapuk yang berkereot seperti sebuah peringatan. Tapi ia tak punya pilihan. Diraihnya tubuh perempuan disebelahnya. Ia masih tertidur. Di peluknya. Erat. Meringkuk di tanah. Hanya beralas kain perca. Berharap dapat menepis dingin yang kian menusuk seiring malam yang kian larut. Lilin yang tadi berkobar telah lama padam.
Pria itu sadar. Bahwa ia, seperti halnya lilin itu. Cepat atau lambat akan berakhir. Tak peduli seberapa kuat, seberapa berani ia dulu. Seperti juga ia sadar betapa lemah tangan dan kakinya.
Pria itu semakin gelisah. Hatinya mencelos tiap teringat masa lalu. Terlalu banyak hal yang mengganjal hatinya. Terlalu sakit untuk mengingat semua itu. Ia sadar telah begitu egois. Memaksa keabadian itu bersamanya. Menemaninya. Ditemani perempuan dengan keabadiannya yang semu. Hampir tiap malam. Hanya berdua. Tak lupa juga sebatang lilin. Penerang dimalam yang selalu mengerikan. Menakutkan. Malam yang luas dan tak berujung.
Malam seakan menjadi suatu pertanda. Pertanda petualangan mereka akan segera dimulai. Dalam kegelapan. Kesunyian yang menyakitkan. Memulai celoteh yang hampir sama tak berujungnya seperti malam. Jangkrik – jangkrik yang sesekali berkerikik. Atau burung hantu berkukuk dalam. Pertanda malam telah jauh. Lalu sunyi kembali.
Baginya perempuan itu telah memberinya kenyamanan. Tak ada yang lebih indah dari berbagi kehangatan bersama orang yang dicinta. Setidaknya ada rasa nyaman. Ditemani perempuan yang selalu siap berbagi kehangatan dengannya. Ditengah malam yang dingin. Malam – malam yang tak ada habisnya.
Saat kesepian mulai menggerogoti, perempuan itu akan selalu ada untuknya. Memulai rintih dan celotehnya seperti memulai malam yang takkan pernah ada akhirnya. Berdua. Selalu hanya berdua. Ketika pria itu merasa rindu. Mereka akan meringkuk bersama. Berbagi kehangatan. Hingga esok. Ketika mentari mulai menyongsong. Embun pagi mulai meleleh di dedaunan. Bunga yang bermekaran. Atau burung – burung berkicau riuh sebagai pertanda malam telah berakhir.
Hujan di luar makin lama makin deras. Tak begitu peduli. Suara – suara kebebasan yang bertamabah histeris. Petir. Geledek. Seakan tak mau kalah. Masih sibuk dengan pertikaian mereka yang kian sengit.
”Sayang” kata pria itu mengigil.
”Peganglah tanganku ini, peluklah tubuhku sekuat – kuatnya. Jangan takut, Bukankah kita akan selalu bersama. Seperti janji kita dulu” Perempuan itu hanya terdiam. Membisu. Pria itu berkata dengan terbata – bata.. Lidahnya seakan membeku. Makin kuat. Makin erat, ia memeluk tubuh perempuan disebelahnya. Seperti mengharap kehangatan lebih. Begitu erat. Hingga tubuh mereka seakan menyatu. Bibir – bibir hampir beradu. Masih meringkuk. Diatas kain perca yang mulai basah. Menggigil. Detak jantung yang memburu. Desah napas yang berkabut. Membasahi wajah. Tapi perempuan itu kelihatan tak bernapas. Ia mati. Atau mungkin memang telah lama mati.

by  NJA'11

TIPS KESEHATAN TERBARU

ARTIKEL KEPERAWATAN

TUTORIAL BLOGGER

VIEWER

MEMBER

© 2011-2014 Ngurah Jaya Antara. All rights reserved. Theme by Bloggertheme9
Blogger templates. Powered by Blogger.
back to top